Millenial Sociopreneur Empowering Indonesia

 

Millenial Sociopreneur Empowering Indonesia

 

Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 260 Juta jiwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika (BPS). Jumlah penduduk yang Indonesia menempati posisi ke 4 dunia dengan jumlah penduduk terbanyak setelah RRC, India dan A. Wilayah Indonesia terdiri dari beribu pulau dan perairan yang menghampar luas. Sumber daya alam sangat melimpah dengan kekayaan seperti wisata bahari, pertambangan

kekayaan alam Indonesia belum bisa membuat Indonesia menjadi Negara yang maju. Kekayaan belum cukup mampu untuk mengelola semuanya. Hal ini diakibatkan oleh banyak faktor seperti pola pikir masyarakat. Masyarakat lebih memilih putus sekolah tak jarang alasannya adalah ekonomi. Anak anak putus sekolah selanjutnya bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Dengan kalitas produktif kerja yang rendah, masyarakat sukit untuk berjuang mendapatkan pekerjaan, ditambah sekarang ada yang namanya MEA ( Masyarkat ekonomi Asean). Masyarakat sulit untuk bersaing ditambah dengan sedikitnya lapangan pekerjaan yang ada. Oleh sebab itu tidak sedikit masyarakat di Indonesia yang menjadi pengangguran.

Mengatasi kemiskinan di Indonesia. Ada banyak cara untuk mengatasi kemiskinan di negeri ini. Salah satunya adalah dengan memperbanyak lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut banyak hal yang perlu dicapai. Menurut seorang pakar bisnis, David McClelland dikutip oleh Ciputra (2009) bahwa salah satu syarat suatu negara untuk mencapai tingkat kemakmuran diperlukan 2% dari jumlahnya penduduknya adalah entrepreneur (wirausaha). Sementara pada tahun 2009 Indonesia yang memiliki sekitar 400.000 orang wirausaha atau sama dengan 0.18% dari jumlah penduduk. Bila rumusan 2% dari jumlah penduduk diperlukan untuk mencapai tingkat kemakmuran Indonesia, maka Indonesia saat ini harus memiliki sekitar 4.600.000 orang. Bila selama 30 tahun ini sejak awal Era Order Baru hingga Era Reformasi baru mencapai 400.000 orang, maka, bila tidak adanya rekayasa dan perubahan strategis yang drastis, diperlukan waktu selama 345 tahun untuk memiliki 4.600.000 wirausaha (4.600.000 orang wirausaha : 400.000 orang wirausaha) = (11.5 x 30 tahun).

Wirausaha dengan konsep Sociopreneur. Sociopreneur adalah perhatian kewirausahaan social, yaitu pengembangan kewirausahaan sosial di dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan, pengangguran maka perlu ada perubahan pengembangan kewirausahaan sosial baik dari aspek paradigma, substansi program dan objek sasaran. Berwirausaha dengan konsep sosiopreneur sangat cocok untuk membangu perekonomian Negara berkembang. Negara Indonesia sebagai gebrakan untuk bisa membuka lapangan pekerjaan berbasiskan social kemasyarakatan.

Millennial adalah zaman dimana semua yang dilakukan oleh manusia sudah berbasis teknologi. Teknologi seakan menjai penopang dalam kehidupan manusia pada umumnya. Orang- orang yang dituntut untuk menguasai teknologi  dan dapat menerapkannya untuk kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian orang yang belum mengenal teknologi umumnya mereka yang sudah tua ataupun mereka yang hidup. Sebagai generasi muda yang lahir pada era millennial sudah sepantasnya kita memanfaatkan secara optimal teknologi teknologi yang mendukung karir kita pada nantinya.

 

Minat menjadi seorang wirausahaan bukan menjadi cita- cita yang banyak diminati oleh kaum muda. Banyak diantara anak muda yang  berfikir untuk mencari ketenangan ketika bekerja nanti. Mereka banyak berfikir untuk menjadi PNS ataupun pekerja swasta. Menjadi wirausaha memang harus memiliki mental yang baik dan juga kreativitas yang tinggi sedangkan kebanyakan dari mereka merasa tidak mampu untuk kemampuannya. Suvey yang pernah saya lakukan mengenai kunjungan pasca campus menunjukan bahwa 80% responden lebih memilih mengikuti pelatihan wawancara bahkan mengajukan untuk adanya tryout tes CPNS.

Seorang millennial sosiopreneur harus memanfaatkan teknologi yang telah ada ataupun membuat inovasi selanjutnya. Era sekarang semuanya serba digital. Istilah perbelanjaan langsung untuk bertemunya penjual dan pembeli sekarang sudah mulai diganti dengan perbelanjaan secara online. Kreeativitas sangat dibutuhkan dalanm hal ini. Oleh karena itu pasar perlu orang orang yang kreatif untuk mencuri perhatian konsumen nantinya.

Sociopreneur dapat mendongkrak perekonomian Negara. Seorang pengusaha yang memiliki jiwa socio berarti mempunyai ketertaikan untuk terjun dalam dunia pemberdayaan masyarakat. Konsep yang dapat diusung dengan tema sosiopreneur yaitu pemberdayaan suatu desa dengan pemanfaatan teknologi secara optimal.

Konsep pemberdayaan berupa wisata tradisi berbau teknologi. Seorang sociopreneur harus mencintai lingkungan tempat tinggalnya terutama di kampung halamannya. Ide untuk memajukan kampong halaman agaknya bukan mustahil jika dilihat dari peluang sekarang. Pekalongan sebagai kota yang dinobatkan sebagai kota creative dunia menjadi peluang besar untuk terciptanya desa wisata. Sociopreneur yang berperan dalam hal ini nantinya dapat  membuat konsep tentang wisata batik. Dalam desa wisata ini dapat dikembangkan wisata penyambutan dengan tarian khas batik jlamprang, selanjutnya dilanjutkan dengan pengenalan pengenalan adat jawa lebih tepatnya yang bisa dilakukan di Pekalongan. Pengenalan mengenai makanan khas sangatlah perlu dilakukan karena selama2-7 hari nantinya para pengunjung akan menikmati sajian khas masyarakat. Pengenalan cara pembuatan batik, berbagai batik dapat dapat dikenalkan dalam acara ini seperti cap, sablon dan tulis. Batik dengan harga termahal yakni batik tukis yang dibuat dengan cara hati- hati ehingga menghasilkan seni yang bagus. Pembutan batik yang diajarkan dalam desa wisata ini tidak hanya menggunakan pembuatan manual, namun juga memanfaatkan teknologi yang ada misalkan pembuatan batik sablon menggunakan teknologi yang sangat canggih. Unsur lingkungan juga sangat diperhatikan dalam hal ini karena limbah batik terlebih dahulu didiamkan sebelum selanjutnya dibuang ke sungai. Pembuatan batik dengan cara cara tradisional selanjutnya dapat dibuat semenarik mungkin.

Pemberdayaan masyarakat sebagai pengolah  desa wisata yang  mewajibkan setiap masyarakat untuk menyiapkan satu kamar tamu sebagai tempat singgah wisatawan untuk menginap. Semua dapat dikelola oleh pemuda desa setempat, sebelum beroperasi pemuda desa di berikan pelatihan- pelatihan seperti adat menerima tamu dan lain sebaginya. Mengatisipasi banyaknya pengunjung yang datang dari luar negeri, seorang sociopreneur harus mengajarkan kemampuan bahasa inggris kepada masyarakat setempat dan menyediakan setidaknya 3 orang yang fasih berbahasa inggris.

Pembuatan toko oleh oleh dan souvenir. Sebagai seorang entrepreneur sudah selayaknya  memanfaatkan keadaan yang ada seperti membuat paket pake souvenir oleh olehyang menarik. Seperti pembuatan kerajinan tangan bersama ibu ibu rumah tangga. Batik menjadi hal yang wajib untuk dibawa menjadi oleh- oleh. Konsepnya wisatawan dapat memawa pulang hasil karyanya. Untuk pengolaborasian, desa wisata juga dapat bekerjasama dengan grosir setempat.

Promosi tempat wisata. Melalui digital. Era milleneal membuat masyarakat lebih cepat menyerap info melalui gadget. Iklan ilkan menarik sangat diperlukan dengan adanya poster poster dan video yang menarik. Selanjutnya juga dibuat aplikasi baik di apple maupun androit. Aplikasi ini memuat tata cara semua yang diajarkan di desa wisata.

Sociopreneur sangatlah dibutuhkan dalam era sekarng ini. Kemiskinan yang ada diharapkan dapat diatasi dengan adanya sociopreneur dengan pemanfaatkan teknologi yang ada. Era digital membuat semuanya berubah dan menuntut agar manusia menjadi makhluk hidup yang lebih kreatif dalam memanfaatkan keadaan yang ada. Kreatifitas akan menjadi sangat menarik jika dikolaborasikan dengan teknologi.

   

Penulis 

DIAN FAUZAH

 

 

 

 

Komentar