KETAHANAN PANGAN BANGSA DI MASA PANDEMI
KETAHANAN
PANGAN BANGSA DI MASA PANDEMI
Pangan adalah
hidup dan matinya suatu bangsa. Cuplikan pidato Bung Karno pada saat pidato
peletakan batu pertama pembangunan kampus IPB. Begitu pentingnya pangan
sehingga menjadi tolak ukur kehidupan. Pertanian menjadi tombak utama bangsa
karena penunjang hampir dalam segala aspek kehidupan.
Ketahanan pangan
termasuk dalam bentuk ketahanan negara non militer. Ketahanan pangan memiliki
peran yang sangat besar terhadap ekonomi yang dampaknya langsung kepada
masyarakat. Era pendemi membuat banyak pejabat mendeklarasikan pidatonya
mengenai ketahanan pangan yang harus terus dijaga. Salah satunya pidato Presiden republik Indonesia pada sambutan
secara virtual di acara Konges luar biasa (KLB) Gerindra yang diadakan di
Bogor. Hal ini bukan tanpa alasan diberikan pada acara tersebut karena
berkaitan dengan ditunjuknya Prabowo (Menteri Pertahanan) sebagai leading
sector dalam program food estate yang berlokasi di Kalimantan
Tengah.
Food
estate digadang- gadang akan menjadi cadangan pangan nasional dalam menghadapi
krisis pangan di tengah pandemi yang telah diumumkan oleh FAO (Food and
Agriculture Organization). Lahan 164.598 ha dengan 85.456 ha merupakan lahan produktif dan
79.142 ha masih berupa semak belukar. Program ini mendapat anggaran dana
sebesar 68 triliun rupiah dari pemerintah (CNN Indonesia 2020). Permasalahan
yang menjadi polemik dari food estate ini mengenai penggunaan lahan ex
pengembangan lahan gambut yang gagal. Bukan tanpa alasan akan permasalahan ini
karena kita ketahui bahwa lahan gambut merupakan lahan yang tidak subur dan
miskin hara. Oleh sebab itu penggunaan lahan gambut untuk sektor pertanian
seperti sawah dirasa kurang tepat karena produktivitasnya rendah.
Sebanyak 36 juta
ton per tahun kebutuhan beras Indonesia dengan produksi dlm negeri 26,9 juta
ton (BPS 2020). Artinya Indonesia devisit
9,1 juta ton per tahun dan jalan impor beras menjadi solusi permasalahan
untuk pemenuhan kebutuhan beras. Adanya food estate diharapkan mampu
menjadi penyedia pangan Indonesia nantinya, nemun dengan berbagai spekulasi
yang ada membuat optimisme akan hal ini menjadi pesimisme. Kita
berharap semuanya lebih memperhatikan masalah ketahanan pangan di masa pandemi
ini, terlebih mengulik kembali kebijakan apa yang akan dibuat.
Komentar
Posting Komentar